Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh <p style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: rgba(0, 0, 0, 0.87); font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,-apple-system,blinkmacsystemfont,&amp;quot;segoe ui&amp;quot;,&amp;quot;roboto&amp;quot;,&amp;quot;oxygen-sans&amp;quot;,&amp;quot;ubuntu&amp;quot;,&amp;quot;cantarell&amp;quot;,&amp;quot;helvetica neue&amp;quot;,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; line-height: 25px; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px; margin: 0px 0px 20px 0px;">Medica Hospitalia: <em style="box-sizing: border-box;">Journal of Clinical Medicine</em>&nbsp;(P-ISSN: <a title="p-ISSN" style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #007ab2;" href="http://u.lipi.go.id/1436428853" target="_blank" rel="noopener">2301-4369</a>; e-ISSN: <a style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #007ab2;" href="http://u.lipi.go.id/1562578179" target="_blank" rel="noopener">2685-7898</a> ) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.</p> <p style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: rgba(0, 0, 0, 0.87); font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,-apple-system,blinkmacsystemfont,&amp;quot;segoe ui&amp;quot;,&amp;quot;roboto&amp;quot;,&amp;quot;oxygen-sans&amp;quot;,&amp;quot;ubuntu&amp;quot;,&amp;quot;cantarell&amp;quot;,&amp;quot;helvetica neue&amp;quot;,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; line-height: 25px; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px; margin: 20px 0px 20px 0px;">Medica Hospitalia: <em style="box-sizing: border-box;">Journal of Clinical Medicine</em>&nbsp; merupakan jurnal kesehatan&nbsp; &nbsp;mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan bidang kedokteran/ kesehatan yang berbasis klinis khususnya Rumah Sakit.</p> <p style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: rgba(0, 0, 0, 0.87); font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,-apple-system,blinkmacsystemfont,&amp;quot;segoe ui&amp;quot;,&amp;quot;roboto&amp;quot;,&amp;quot;oxygen-sans&amp;quot;,&amp;quot;ubuntu&amp;quot;,&amp;quot;cantarell&amp;quot;,&amp;quot;helvetica neue&amp;quot;,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; line-height: 25px; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px; margin: 20px 0px 0px 0px;"><span style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #000000; cursor: text; display: inline; float: none; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Medica Hospitalia: </span><em style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #000000; cursor: text; font-size: 14px; font-style: italic; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; outline-color: transparent; outline-style: none; outline-width: 0px; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;">Journal of Clinical Medicine</em><span style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #000000; cursor: text; display: inline; float: none; font-family: &amp;quot; noto sans&amp;quot;,arial,helvetica,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: none; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;"> sudah terindeks </span><a title="Google Scholar" style="background-color: transparent; box-sizing: border-box; color: #007ab2; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-decoration: underline; text-indent: 0px; text-transform: none; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; word-spacing: 0px;" href="https://scholar.google.co.id/citations?hl=id&amp;user=r_-HSA0AAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a></p> <p>&nbsp;</p> RSUP Dr. Kariadi en-US Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine 2301-4369 <p><strong>PEMBERITAHUAN HAK CIPTA</strong></p> <ul> <li><strong>Hak Cipta</strong>:</li> </ul> <p>Penulis yang mempublikasikan naskahnya pada Medica Hospitalia: <em>Journal of Clinical Medicine</em> menyetujui ketentuan berikut:</p> <ol> <li>Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis, begitu juga dengan hak untuk mempatenkan. 2. Penulis mengakui bahwa Medica Hospitalia: <em>Journal of Clinical Medicine</em> berhak sebagai yang mempublikasikan pertama kali.</li> <li>Penulis dapat memasukan tulisan secara terpisah, mengatur distribusi non-ekskulif dari naskah yang telah terbit di jurnal ini kedalam versi yang lain (misal: dikirim ke respository institusi penulis, publikasi kedalam buku, dll), dengan mengakui bahwa naskah telah terbit pertama kali pada Medica Hospitalia: <em>Journal of Clinical Medicine</em></li> </ol> <ul> <li><strong>Lisensi</strong> :</li> </ul> <p>Medica Hospitalia: <em>Journal of Clinical Medicine</em> didiseminasikan berdasarkan ketentuan lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4.0 Internasional. Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun, menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun. Anda tidak dapat menggunakan materi ini untuk kepentingan komersial. Anda harus mencantumkan nama yang sesuai, mencantumkan tautan terhadap lisensi, dan menyatakan bahwa telah ada perubahan yang dilakukan. Anda dapat melakukan hal ini dengan cara yang sesuai, namun tidak mengisyaratkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.</p> Faktor Resiko Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Banjarnegara http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/354 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Prevalensi penderita tuberkulosis paru di Jawa Tengah menduduki peringkat ke-5 yaitu 0.4% menurut Riskesdas tahun 2013. Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2013テつ dengan prevalensi kecenderungan 0,3 % per 100.000 penduduk. Menurut data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2014 prevalensi tuberkulosis paru yaitu 180 per 100.000 penduduk. Jumlah penderitaテつ tuberkulosis paru pada tahun 2014-2016.テつ di Kecamatan Karangkobar mengalami pasang surut yaitu 14 kasus pada tahun 2014, 123 Suspek dan 30テつ kasus pada tahun 2015 dan pada bulan Mei 2016テつ terdapat 19 kasus. Selain faktor kesehatan lingkungan rumah, status gizi juga berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. <strong></strong></p><p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan disain<em> case control</em>. Subjek dalam penelitian adalah masyarakat yang terdiri dari 19 kasus (tuberkulosis paru) dan 38テつ kontrol (bukan Pasien Tuberkulosis paru). Data asupan zat gizi diperoleh dengan metode <em>Food Frequency </em><em>Q</em><em>uestionnaires </em>(FFQ) semikuantitatif,data riwayat pendidikan, pendapatan dan perilaku merokok diperoleh melalui wawancara terstruktur. Data dianalisis dengan uji <em>Chi Square</em> dan Regresi Logistik untuk menghitung Odds Rasio (OR).<strong></strong></p><p><strong>Hasil</strong>: Uji regresi logistik menunjukan bahwa tingkat konsumsi protein yang kurang</p><p>テつ (OR=6,5 ; 95%CI: 1,6-26,6) dan pendidikan rendah ((OR=9,5 ; 95%CI: 1,5-60,5)テつ テつ merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru.</p><p><strong>Simpulan: </strong>tingkat konsumsi protein yang kurang dan pendidikan rendahテつ merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru di Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara.</p><p>テつ </p><p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><strong>: </strong>Faktor Risiko, Tuberkulosis Paru, Masyarakat Pengunungan</p><p align="center"><strong><em>テつ </em></strong></p><p align="center"><strong><em>テつ </em></strong></p> Galuh Chandra Irawan Ani Margawati Ali Rosidi ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Penatalaksanaan Endoscopic Dacryocystorhinostomi Pada Dakriostenosis http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/355 <p><strong>Latar belakang :</strong><em>Dacryocystorhinostomy</em> (DCR) adalah prosedur pilihan untuk obstruksi duktusnasolakrimalis dan dakriosistitis. Dua pendekatan utama yang dapat digunakan adalah pendekatan eksternal melalui sayatan transkutan dan pendekatan endonasal dengan endoskopi.Tingkat kesuksesan <em>endoscopic</em> DCR sebesar 84% sedangkan DCR eksternal sebesar 70%.Keuntungan <em>endoscopic</em> DCR yaitu dapat dilakukan pada dakriosistitisakut, tidak ada luka parut di kulit dan nyeri pasca operasi minimal.</p><p><strong>Tujuan:</strong>Melaporkan tindakan <em>endoscopic </em>DCR pada pasien dakriostenosisdi RSUP dr. Kariadi. <strong>Kasus:</strong>Pasien pertama laki-laki dengan mata kiri dakriosistitiskronik dan fistula saccuslakrimalise.cdakriostenosis dan pasien kedua anak dengan dakriostenosisduplek.</p><p><strong>Penatalaksanaan:</strong>Dilakukan tindakan <em>endoscopic </em>DCR dan pemasangan silicon tube <strong>Kesimpulan:</strong>Tindakan<em>endoscopic</em>DCR memberikanhasil yang baik pada pasien dengan dakriosistitiskronike.cdakriostenosis<strong></strong></p><p><strong>Kata kunci: </strong>Dakriostenosis, <em>EndoscopicDacryocystorhinostomy</em></p> Rosa Putrie Anindya Anna Mailasari Kusuma Dewi ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Korelasi antara Penambahan Berat Badan Janin dengan Asupan Protein Pada Kehamilan Trimester III http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/356 <p><strong>Latar Belakang.</strong>Kehamilan merupakan periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Asupan protein akan meningkatkan transpot asam amino ke dalam plasenta. Asam amino, khususnya arginin akan meningkatkan vasodilator NO sehingga akan meningkatkan transfer nutrisi ke janin. Selain itu, asupan protein yang cukup akan merangsang sekresi IGF-1 yang akan mendukung pertumbuhan janin. Di sisi lain, asupan protein yang berlebihan pada awal kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada masa kanak-kanak yang dapat berlanjut menjadi penyakit jantung koroner dan sindroma metabolik pada saat dewasa. Faktor metabolik dan neuroendokrin yang berperan sejak masa kehamilan ini dikenal sebagai <em>metabolic programming</em>. Oleh karea itu perlu dilakukan penelitian awal untuk mengetahui korelasi antara penambahan berat badan janin dengan asupan protein pada kehamilan trimester 3.</p><p><strong>Tujuan</strong>. Membuktikan korelasi antara intake protein pada kehamilan Trimester III dengan penambahan berat badan janin intrauterin<strong>.</strong></p><p><strong>Metode.</strong>Penelitian ini adalahpenelitinanalitik observasional. Intake protein dinilai dengan metode <em>food recall</em>selama 24 jam dan dilakukan <em>nutrisurvey </em>untuk menilai kecukupan intake protein (cukup atau kurang). Penambahan berat badan janindinilai dengan menghitung selisih berat badan bayi saat lahir dengan berat janin pada usia kehamilan 30 テ「竄ャ窶 34 minggu</p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Hasil.</strong>Sebanyak42subyek dilakukan<em>food recall </em>untuk mengetahui kecukupan protein pada kehamilan trimester III. Sebanyak 27 orang telah bersalin dan dinilai korelasi antara kecukupan intake protein dan penambahan berat badan janin. Hasil analisa didapatkan korelasi positif dengan derajat sedang antara penambahan berat badan janin dengan kecukupan protein pada kehamilan trimester III (<em>r</em> 0,48 ;<em>p</em> 0,012). </span></span></p><p><strong>Kesimpulan.</strong>Kecukupan intake protein pada kehamilan trimester III mempunyai korelasi dengan penambahan berat badan janin.</p><p><strong>テつ </strong></p><p>テつ </p><table cellspacing="0" cellpadding="0"><tbody><tr><td bgcolor="white" width="634" height="191"><table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0"><tbody><tr><td><div><p>テつ </p><p><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">テつ </span></p></div></td></tr></tbody></table><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">テつ </span></td></tr></tbody></table><p>テつ </p><p><strong>Kata kunci. </strong>Kecukupan asupan protein, berat badan bayi, penambahan berat badan janin, <em>food recall</em></p> Eva Martiana Julian Dewantiningrum Maria Mexitalia ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Hubungan Antara Indeks Trombosit (Jumlah Trombosit, MPV, PDW, P-LCR) Dengan CKMB DanTroponinPada Pasien Sindrom Koroner Akut http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/357 <p><strong>Latar Belakang</strong><strong>: </strong>Sindrom koroner akut erat kaitannya dengan proses aterosklerosis. Aterosklerosis terjadi sebagai respon adanya kerusakan pada endotel. Trombosit memegang peran penting dalam proses rupturnya plak yang akan membentuk trombus dan menjembatani proses inflamasi. Indeks trombosit memiliki korelasi dengan aktivitas dan fungsi trombosit dan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis.</p><p><strong>Tujuan: </strong>Untukmengetahui hubungan indeks trombosit (jumlah trombosit, MPV, PDW, P-LCR) dengan CKMB dan Troponin pada pasien sindrom koroner akut<strong></strong></p><p><strong>Metode</strong><strong>: </strong>Rancangan penelitian belah lintangterhadap pasien sindrom koroner akut yang berobat di RSUP Dr.Kariadi. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan analisis hubungan menggunakan korelasi Spearman dengan signifikansi p&lt;0.01.</p><p><strong>Hasil</strong><strong>: </strong>Subjek penelitian berjumlah68 orang dengan rentang usia 32-94 tahun. Terdapat hubungan antaraMPV dengan CKMB (r=0.873, P=0.000) dan troponin(r=0.665, P=0.000), PDW dengan CKMB (r=0.849, P=0.000) dan troponinテつ (r=0.610, P=0.000), P-LCR dengan CKMB (r=0.903, p=0.000) dan troponinテつ (r=0.685, P=0.000). Tidak terdapat hubungan antara jumlah trombosit dengan CKMB(r=-0.0150, P=0.224), troponin (r=-0.045, P=0.715).</p><p><strong>Kes</strong><strong>impulan</strong><strong>: </strong>Terdapat hubungan bermakna antara MPV, PDW, P-LCRdenganCKMB dan troponin. Tidak terdapat hubungan antarajumlah trombosit dengan CKMB dan troponin pada pasien sindrom koroner akut.</p><p><strong>Kata Kunci : </strong>Indeks trombosit, CKMB, troponin, sindrom koroner akut<strong></strong></p> Angeline Barbara Mailoa Purwanto Adhipireno ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Pengaruh Derajat Oligohidramnion terhadap Kejadian Korioamnionitis pada Ketuban Pecah Dini http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/358 <p><strong>Latar Belakang:</strong><strong> </strong>Korioamnionitis merupakan penyebab terbesar angka kematian ibu. Oligohidramnion merupakan faktor risiko terjadinya korioamnionitis.Kondisi oligohidramnion dapat diukur dengan metode <em>amniotic fluid index</em> (AFI) atau <em>single deepest pocket</em> (SDP) pada pemeriksaan sonogafi.</p><p><strong>Tujuan:</strong><strong> </strong>Mengetahui pengaruh derajat oligohidramnion terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini.</p><p><strong>Metode:</strong>Penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subjek 31 ibu hamil dengan ketuban pecah dini disertai oligohidramnion yangテつ melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari テ「竄ャ窶 Juni tahun 2017, Kriteria inklusi usia kehamilan テ「窶ーツ・ 34 minggu, belum masuk fase aktif inpartu, janin tunggal hidup intra uterin. Subyek dipilih secara consecutive sampling. Identitas subyek, karakteristik obstetri, dan nilai AFI atau SDP dicatat, kulit ketubanテつ diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis. Analisis data dengan uji <em>chi-square</em><em>.</em></p><p><strong>Hasil: </strong>Didapatkan 91,7% korioamnionitis pada oligohidramnion berat lebih tinggi dibandingkan dengan oligohidramnion ringan (78,9%). Nilai <em>p</em> sebesar 0,342.</p><p><strong>Kesimpulan: </strong>Derajat oligohidramnion tidak berpengaruh terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini.</p><p><strong>テつ </strong></p><p><strong>Kata kunci: </strong>Oligohidramnion, korioamnionitis, ketuban pecah dini</p> Fadhila Khairunnisa Poerwoko Julian Dewantiningrum Arufiadi Anityo Mochtar Ratnasari Dwi Cahyanti Dik Puspasari Nahwa Arkhaesi ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Faktor yang berpengaruh pada perkembangan bicara anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/359 <p><span style="font-size: medium;"><strong>Latar belakang</strong> : Deteksi dini tuli kongenital sudah dilakukan di RSUP Dr. Kariadi. Rata-rata kunjungan anak kurang dengar sejak lahir sebanyak 10-20 pasien per bulan. Salah satu metode intervensi dengan pemakaian alat bantu dengar (ABD). Keluaran penting bagi anak pengguna ABD adalah persepsi bicara, bahasa, kemampuan komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mempengaruhi perkembangan auditori, bahasa dan wicara pada anak kurang dengar yang menggunakan ABD.</span></p><p><span style="font-size: medium;"><strong>Metode </strong>: Penelitian belah lintang. Sampel adalah anak kurang dengar dengan ABD usia pendengaran kurang dari 2 tahun. Data umur pertama memakai alat bantu dengar (ABD), lama penggunaan ABD perhari, jumlah ABD didapatkan dari wawancara. Derajat kurang pendengaran dari hasil BERA. Data kelainan lain pada sampel didapat dari rekam medis. Perkembangan auditori, bahasa dan wicara dinilai dengan <em>LittlEARS Auditory Questionnaire</em> (LEAQ). Analisis data dengan uji <em>Chi square</em> menggunakan regresi logistic multivariate.</span></p><p><span style="font-size: medium;"><strong>Hasil </strong>: Sampel berjumlah 35 anak, 17 (48,6%) anak menggunakan ABD di usia kurang dari atau sama dengan 3 tahun dan 18 anak (51,4%) menggunakan ABD setelah 3 tahun. Data derajat kurang pendengaran <em>profound</em> 80%, sedang-berat 20%. Lama pemakaian ABD diatas 8 jam sebanyak 45,7% dan 54,3% anak dibawah 8 jam. Terdapat kelainan lain 20% dan tanpa kelainan 80%. Frekuensi terapi wicara kurang dari 2 kali perminggu 54,3% dan lebih dari sama dengan 2 kali perminggu 45,7%. Hasil <em>LittlEARS Auditory Questionnaire</em> (LEAQ) dibawah kurva 52,4% dan 47,6% sesuai kurva normal. Didapatkan agka yang signifikan (p&lt;0,005) pada lama pengunaan alat dan frekuensi terapi wicara. </span></p><p><span style="font-size: medium;"><strong>Simpulan</strong> : Lama penggunaan ABD dan frekuensi terapi wicara merupakan faktor yang berpengaruh dalam perkembangan bicara pada anak kurang pendengaran yang menggunakan ABD.</span></p><p><strong><span style="font-size: medium;">テつ </span></strong></p><p><span style="font-size: medium;"><strong>Kata Kunci</strong> : Alat bantu dengar, perkembangan auditori, kurang pendengaran</span></p> Nastiti Dwi Muyassaroh . ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Pengaruh vitamin C terhadap peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/360 <p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Latar belakang: </strong>Masalah tonsilitis kronik sering pada anak. Gejala klinik yang muncul berdampak negatif sehingga menurunkan kualitas hidup. Radikal bebas berperan dalam tonsilitis kronik. Potensi kerusakan radikal bebas dibatasi antioksidan. <strong>Tujuan: </strong>Membuktikan vitamin C menurunkan kadar peroksidasi lipid, memperbaiki gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik. </span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Material dan metode: </strong>Penelitian <em>Randomized Controlled Trial</em> dengan <em>simple random sampling</em>. Penilaian kadar peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup dilakukan sebelum dan sesudah pemberian vitamin C. </span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Hasil:</strong> Total 51 penderita, 10 <em>drop out</em> dan 41 dianalisis. Kadar peroksidasi lipid sesudah perlakuan kelompok vitamin C (3,41 (0,53-4,65)) tidak berbeda bermakna dibandingkan sebelum perlakuan (3,43 (0,39-4,16)) (<em>p</em>=0,237). Skor total gejala klinik sesudah perlakuan kelompok vitamin C (14,76テつア4,34) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (20,38テつア5,25) (<em>p</em>=0,000). Skor total kualitas hidup sesudah perlakuan kelompok vitamin C (65 (52 テ「竄ャ窶 79)) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (78 (57 テ「竄ャ窶 88)) (<em>p</em>=0,000). <strong>Kesimpulan: </strong>Kadar peroksidasi lipid yang diberikan vitamin C tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa diberikan vitamin C (<em>p</em>=0,237). Gejala klinik dan kualitas hidup yang diberikan vitamin C lebih baik dibandingkan tanpa diberikan vitamin C. </span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kata kunci:</strong> tonsilitis kronis, kadar peroksidasi lipid, gejala klinik, kualitas hidup</span></span></p> Nancy Liwikasari Farokah . Suprihati . ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini. http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/361 <p><strong>Latar Belakang:</strong>KPD merupakan masalah penting yang dapat menempatkan ibu dan anak pada risiko infeksi. Infeksi sekunder secara asenderen dapat terjadi pada KPD yang kemudian dapat menyebabkanテつ desiduitis, korioamnionitis ataupun infeksi pada janin. Korioamnionitis dapat dikaitkan dengan rendahnya kesejahteraan bayi saat lahir yang dinilai dengan skor APGAR, kebutuhan untuk resusitasi pada saat kelahiran, dan kejang neonatal.</p><p>テつ </p><p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini.</p><p>テつ </p><p><strong>Metode:</strong>Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah 31 ibu hamil dengan KPD disertai korioamnionitis yang melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari テ「竄ャ窶 Juni 2017 yang dipilih secara consecutive sampling.Terhadap subjek penelitian dilakukan pengambilan data identitas, karakteristik obstetri dan skor APGAR, lalu diambil sampel kulit ketuban untuk diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis.Uji statistik menggunakan Uji Gamma.</p><p>テつ </p><p><strong>Hasil: </strong>Dari seluruh subjek penelitian, 71% (n=22) pasien KPD mengalami korioamnionitis sedangkan 29% (n=9) lainnya tidak mengalami korioamnionitis. Sebesar 100% pasien tidak memiliki bayi asfiksia pada korioamnionitis tingkat 1 (n=2) dan tingkat 2 (n=1). Pada korioamnionitis tingkat 3, sebesar 91,7% (n=11) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 8,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia ringan-sedang. Pada korioamnionitis tingkat 4, sebesar 85,7% (n=6) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 14,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia berat. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara korioamnionitisテつ denganasfiksia neonatus dengan nilai p sebesar 0,210 ( p &gt; 0.05).</p><p>テつ </p><p><strong>Kesimpulan: </strong>Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara korioamnionitis dengan asfiksia neonatus pada kehamilan dengan KPD.</p><p><strong>テつ </strong></p><p><strong>Kata kunci: </strong>Asfiksia Neonatus, Ketuban Pecah Dini, Korioamnionitis</p> Naura Laras Rif'ati Herman Kristanto Putri Sekar Wijayati Nahwa Arkhaesi ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Penegakkan Diagnosis Dan Manajemen Tatalaksanakista Odontogenik Regio Maksilla Anterior Di RSUP Dr.Kariadi Semarang http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/362 <p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Lat</strong><strong>arbelakang :</strong>Kistaodontogenic adalah kista dengan struktur epitel berasal dari struktur gigi.Kistaodontogenic sering terjadi didaerah rahang,terutama diregiomaksillaanterior.</span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Tujuan :</strong>Untuk memberikan informasi penegakkan diagnosiskista odontogenik terutama di regio maksilla anterior yang sering memberikan gambaran tumor jinak.</span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Laporan kasus :</strong>Serial kasus kista odontogenicdiregiomaksilla anterior pada 2 pasien dewasa dengan tatalaksana berupa tindakan ekstirpasi dengan cara enukleasi menggunakan pendekatan <em>midfacialdegloving </em>dan <em>Denkerrhinotomy.</em></span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kesimpulan :</strong>Kasus yang dilaporkan menunjukkan bahwa kista odontogenik regio maksilla anteriorsering tidak terdiagnosis karena penampakannya menyerupai massa jinak.テつ </span></span></p><p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kata kunci :</strong>Kistaodontogenik,テつ maksilla, diagnosis, enukleasi</span></span></p> Christin Rony Nayoan Riece Hariyati Anna Mailasari Kusuma Dewi Dwi Antono ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Terapi Siklosporin Pada Psoriasis Pustulosa Generalisata Dengan Liver Injury Karena Penggunaan Acitretin Jangka Panjang http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/363 <div><p><strong>Latar belakang: </strong>Psoriasis pustulosa generalisata (PPG) merupakan salah satu jenis psoriasis yang jarang terjadi. Angka kejadian PPG 0,6-0,7 kasus per satu juta jiwa. Gejala khas PPG yaitu terdapat pus steril dengan ukuran 2-3 mm yang tersebar generalisata diatas kulit yang eritem. Terapi yang biasa digunakan diantaranya siklosporin, acitretin, atau metrotekstat. <strong>Tujuan: </strong>Tujuan dari kasus ini untuk membahas tentang faktor pencetus PPG, pilihan obat, komplikasi, dan efek samping dari terapi PPG jangka panjang.</p><p><strong>Kasus: </strong>Seorang wanita usia 37 tahun dengan riwayat psoriasis datang dengan keluhan terdapat pustula generalisata, makula eritem dan skuama. Faktor predisposisi dan pencetus pada pasien ini adalah obesitas dan stres emosional. Pasien pernah mendapatkan terapi siklosporin selama 3 tahun kemudian diganti asitretin satu tahun terakhir. Hasil histopatologi didapatkan gambaran abses munro dan parakeratosis sesuai dengan PPG. Didapatkan leukositosis dan kelainan tes fungsi hati pada pemeriksaan laboratorium, sehingga terapi kembali diganti dengan siklosporin dosis rendah selama 10 hari dan memberikan hasil yang memuaskan.</p><p><strong>Pembahasan: </strong>PPG merupakan penyakit autoimun. Stres emosional merupakan faktor yang paling berpengaruh; pada kasus ini pasien telah lama menderita PPG dan terapi sistemik jangka panjang, emosi pasien menjadi tidak terkontrol sehingga sering terjadi kekambuhan. Acitretin dapat menyebabkan kerusakan hepar; siklosporin dapat menjadi pilihan yang lebih baik.</p><p>テつ <strong>Simpulan:</strong> PPG masih menjadi masalah besar. Stres emosional merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian PPG. Terapi jangka panjang dan efek samping menyebabkan ketidakpatuhan pasien untuk konsumsi obat. Penting bagi pasien untuk melanjutkan terapi obat sistemik dan mengontrol emosi</p><p><strong>Kata kunci: </strong>Psoriasis pustulosa generalisata, Acitretin, Siklosporin, Kerusakan Hepar.<strong>Key Words:テつ </strong>Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von Zumbusch</p><p>Psoriasis is an autoimmune disease triggered by different conditions in genetically susceptible people. It is characterized by variable cutaneous manifestations including localized or disseminated pustules. Generalized pustular psoriasis (GPP) has two main clinical forms: von Zumbusch psoriasis, characterized by severe erythrodermia and scaling skin after the resolution of pustules, and the annular form. GPP may also present severe extracutaneous manifestations including pneumonitis, heart failure and hepatitis. Old reports showed a relationship between hypoparathyroidism and hypocalcemia as triggers for GPP highlighting the importance of adequate workup of the patient and possible therapeutic changes in acute situations. Here, we present a case of severe von Zumbusch psoriasis with life-threatening complications triggered by severe hypocalcemia secondary to hypoparathyroidism successfully treated with aggressive calcium reposition.</p><p><strong>Key Words:テつ </strong>Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von Zumbusch</p></div><strong><br clear="all" /> </strong> Renni Yuniati Intan Nurmawati Putri ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Peran Mr-Imaging Dalam Deteksi Agenesis Corpus Callosum Pada Anak Dengan Keluhan Kejang http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/364 <p><strong>LATAR BELAKANG</strong></p><p>Gangguan pada perkembangan otak dapat mengakibatkan abnormalitas. Gangguan tersebut dapat berasal dari beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan / didapat, faktor genetik dan abnormalitas fungsional. Kelainan kongenital sistem saraf pusat dapat terjadi sebagai lesi tunggal maupun dapat berhubungan dengan malformasi kongenital yang lain. Neuroimaging memegang peranan penting dalam diagnosa pasien dengan kelainan otak kongenital.</p><p><strong>LAPORAN KASUS</strong></p><p>Kasus 1 : Seorang bayi perempuan usia 2 bulan dirawat dengan keluhan kejang yang dirasakan sejak pasien berusia 2 hari. Pada pemeriksaan MRI didapatkan kesan tak tampak gambaran corpus callosum disertai gambaran colpocephale dan pelebaran ventrikel lateral kanan kiri dan ventrikel III membentuk gambaran racing car sign, sesuai gambaran agenesis corpus callosum. Tampak pula adanya heterotopia periventrikuler, microftalmia curiga disertai coloboma cyst dan perineural cyst.</p><p>Kasus 2 : seorang anak perempuan usia 10 tahun datang dengan keluhan kejang dan kaku pada seluruh badan. Pada pemeriksaan MRI kepala tanpa kontras didapatkan adanya gambaran colpocephale disertai penipisan body corpus callosum bagian posterior yang mendukung gambaran hipogenesis corpus callosum. Tampak pula gambaran polymicrogyria lobus occipital kanan-kiri dan pachygyria sebagian lobus regio parietal kanan-kiri.</p><p><strong>DISKUSI</strong></p><p>Abnormalitas kongenital corpus callosum dapat berupa complete agenesis maupun terbentuk secara parsial / hipogenesis. Diagnosis agenesis corpus callosum sangat bergantung pada neuroimaging. Diagnostik ini dapat ditegakkan pada masa prenatal dan post natal. Pemeriksaan imaging yang dapat digunakan dalam mendiagnosis agenesis corpus callosum adalah ultrasonografi (USG), CT scan dan MRI. Sedangkan pada masa antenatal USG dan MRI merupakan pilihan yang dapat digunakan untuk mendiagnosa adanya agenesis corpus callosum.</p><p><strong>KESIMPULAN</strong></p><p>Corpus callosum dapat terlihat dengan detail menggunakan pemeriksaan MRI. Pemeriksaan dengan MRI dapat dimulai dari masa fetus sampai lahir. Penegakkan diagnosis sedini mungkin sangat penting dalam penentuan target terapi pasien.</p><p><strong>Kata Kunci : agenesis callosal, malformasi otak, malformasi kongenital</strong></p> Anisah Amalia Waqiati Frederica Mardiana Wahyuni ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2 Tatalaksana Laringomalasia Kongenital Derajat Sedang pada Bayi http://medicahospitalia.rskariadi.id/medicahospitalia/index.php/mh/article/view/365 <p><strong>Latar belakang: </strong>Laringomalasia merupakan kelainan laring kongenital yang paling sering. Gejala khas laringomalasia adalah stridor inspirasi. Penatalaksanaan laringomalasia dengan non medikamentosa, medikamentosa dan operatif. Tujuan penulisan kasus ini adalah melaporkanテつ tatalaksana laringomalasia kongenital derajat sedang pada bayi dengan aspirasi rekuren, sehingga angka morbiditas dan mortalitas menurun.</p><p><strong>Laporan kasus: </strong>Bayi perempuan, usia 2 bulan, konsulan dari bangsal anak RSUP Dr. Kariadi Semarang dirawat dengan <em>assesment</em> bronkopneumonia riwayat aspirasi rekuren, gizi buruk perawakan normal, dan anemia mikrositik normokromik. Diagnosis Bagian THT adalah laringmalasia kongenital derajat sedang disertai pneumonia aspirasi. Tatalaksanan dengan diit lewat NGT, medikamentosa, fisioterpi, stimulus oromotor. Evaluasi 1minggu mengalami perbaikan, dipulangkan terpasang NGT, diberi obat, edukasi, fisioterapi dan latihan stimulus oromotor Bayi. usia 6 bln NGT di lepas. Evaluasi saat pasien berusia 8 bulan, tidak sesak nafas, minum susu dengan dot dan tidak tersedak.</p><p>テつ <strong>Pembahasan : </strong>Laringomalasia dibagi menjadi derajat ringan, sedang dan berat.<strong> </strong>Laringomalasia derajat sedang perlu perbaikan gejala dengan memasang NGT untuk diit dan cegah aspirasi. 70% bayi mengalami perbaikan setelah 12 bulan. 28% laringomalasia derajat sedang dapat menjadi laringomalasia derajat berat. Bayi dengan laringomalasia derajat sedang dan saturasi oksigen rata-rata テ「窶ーツ、 91% memerlukan terapi operatif (supraglottoplasti). Kasus ini terdiagnosis laringomalasia derajat sedang dengan terapi konservatif membaik dan tidak ada indikasi untuk dilakukan tindakan operatif.</p><p><strong>Kesimpulan :</strong>. Bayi perempuan 2 bulan terdiagnosis laringomalasia derajat sedang disertai aspirasi pneumonia. Di berikan tatalaksana konservatif mengalami perbaikan klinis. Usia 8 bulan tidak sesak, dapat minum dengan baik.テつ </p><p><strong>Kata kunci : </strong>Derajat laringomalasia, stridor, tatalaksana<strong> </strong></p> Muyassaroh . Rery Budiarti ##submission.copyrightStatement## 2018-11-09 2018-11-09 5 2